Horison

Horison

Senin, 04 Februari 2013

Out Of The Boxes


Cerita ini saya tulis secara tidak sengaja, inspirasinya juga muncul dari hal yang biasa saya lakukan yakni saat pulang pergi Surabaya – Jember. Kenapa hal biasa karena saya sudah dinas di Jember sejak tahun 2006 dan sukses belum pindah-pindah sampai dengan blog ini ditulis (2013). Saking awetnya saya disana dan tidak pindah-pindah saya termasuk warga kantor yang paling senior diantara pendatang (sialan banget gak sihhhh….) tapi tidak mengapa banyak hal yang bisa saya ceritakan dengan kondisi ini. Begini ceritanya (sama diiringi lagu-lagu mistis he he he he)

Seperti hari-hari sebelumnya rutinitas kerja mulai Senin – Jumat bikin kepala pusing, badan meriang, pikiran mampet dst dsb. Pokoknya pusing deh kalau merasakan sendiri. Saking boring nya dan suntuk nya jadi punya pikiran aneh-aneh salah satunya pulang ke Surabaya naik kereta. Apanya yang aneh kan biasa? Anehnya karena biasanya saya pulang ke Surabaya naik bis, sekarang naik kereta kan aneh ya? Lupakan itu aneh apa tidak kita lanjutkan saja cerita saya, wong saya yang punya blog jadi ya suka-suka saya. Nah setibanya di stasiun karena lagi suntuk pikiran saya langsung memilih kereta kelas Bisnis yang tidak ada AC nya padahal selama ini kalau bepergian kemana saja selalu memilih kelas executive. Dalam hati saya siapa tahu bisa menemukan hal yang unik dan menarik.
Maka belilah saya 1 tiket Mutiara Timur kelas bisnis Jember – Surabaya dengan harga Rp.55.000,- dan dapat duduk di gerbong 2 nomor kuris 1A, ooooo my God!!! Itu kan dekat WC kereta yang seperti anda tahu, bau nya amit-amit jabang bayik. Tapi mengingat lagi suntuk ya saya tidak peduli lagi dahh pokoknya berangkat. Tunggu punya tunggu ehhh kereta datangnya tepat waktu (kurang deh suntuk saya) masuk ke gerbong 2, paling belakang pojok deket kamar mandi (seperti saya duga) untungnya saya duduk sendirian jadi kaki bisa selonjor santai. Tidak lama kereta pun berangkat, konsisi agak panas namun terbantu oelh tipan sepoi-sepoi kipas angin, ada AC tapi kok keliatannya tewas alias mati ajaibnya tidak ada bau WC sama sekali. Ya sudah lah untungnya cuaca mendung sehingga suasana tidak terlalu panas.

5 menit kemudian berangkatlah kereta ku jess jess jess tuttttttt! Selama ini kalau saya naik kereta di kelas Executive jendela nya pasti rayband alias gelap total tidak bisa lihat keluar, yang sekarang saya saksikan lewat jendela kelas bisnis gerbong 2, kursi 1A benar-benar luar bisa! Ya, saya benar-benar terpekur melihat pemandangan diluar sana. Sawah menghijau terbentang luas, dipecah oleh saluran-saluran air bagaikan urat nadi sementara langit agak mendung menggantung. Tidak ada satupun manusia di tengah hamparan sawah diluar sana, hiasan berupa burung-burung bangau beterbangan, sementara yang terdengar cuma hantaman roda kereta api menggesek rel semakin membuat suasana semakin mistis. Ohh benar-benar Indonesia negara yang indah dan subur.

Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa bagi saya, langsung semua perasaan bosan, suntuk, amarah dll hilang luruh dengan pemandangan di luar sana, penat selama seminggu menghilang digantikan keinginan untuk bebas bagai bangau di persawahan tersebut. Terpekur karena selama 7 tahun ini melewatkan pemandangan seperti ini, jujur saja selama ini saya pulang pergi Surabaya – Jember tidak pernah memperdulikan hal ini, baru kali ini saya merasakan indahnya pemndangan di luar sana. 4 Jam perjalanan tidak terasa karena pemandangan yang tersaji didepan jendela kabin saya benar-benar luar biasa. Melewati persawahan memasuki perkampungan gambaran lain tersaji, orang-orang yang menikmati hari mereka dengan duduk di beranda rumah sambil memandangi kereta lewat (mungkin jadi hiburan tersendiri bagi mereka), memandangi mereka tersenyum rasanya hati menjadi tenang. 


 Hari itu benar-benar pengalaman luar biasa bagi saya, memandang sesuatu dari perspektif yang berbeda bukannya tabu melainkan memperkaya pribadi kita. Begitupun dengan saya, perjalanan 4 jam tersebut membuat saya berpikir tentang hidup. Hidup yang saya jalani selama ini selalu enak dengan berbagai fasilitas yang ada, sampai-sampai 7 tahun berlalu dengan tidak mengetahui ada keindahan dunia diluar sana. Sampai saya melihatnya dengan sudut yang berbeda dan semuanya berubah! Benar-benar magic! Benar ternyata pengalaman para petualang yang menjelajah Indonesia maupun dunia dengan cara dan perspektif berbeda, mengenali budaya, kehidupan masyarakatnya dengan terjun langsung ke dalam masyarakat dengan melihat langsung, bukannya duduk di dalam area ekslusive terpisah dari alam sekitarnya.

Perjalanan kemarin, percaya atau tidak bisa menenangkan hati saya. Emosi yang da hilang digantikan rasa syukur...terserah percaya atau tidak. Cobalah berpikir out of the boxes hasilnya pastilah luar bisa, lakukan hal-hal diluar kebiasaan hasilnya pun pasti diluar kebiasaan. Tahu tidak setelah perjalanan kemarin saya merencanakan travelling backpacker Bangkok – Laos – Vietnam via jalan darat dan mulai mempersiapkan schedule......perjalanan ini membuka hati saya untuk melakukan hal-hal baru. Bukan dengan penerbangan kelas bisnis, hotel bintang lima tapi langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat langsung. Mass trasportation! Doakan ya teman-teman perjalanan ini segera terlaksana dan berhasil.


Ni info aja bagi yang mau cari inspirasi seperti saya dengan naik kereta he he he:
Tiket Kereta kelas binsis : Rp. 55.000,-
Becak / Ojek ke stasiun Jember : Rp. 10.000,-
Makan nasi goreng di Kereta : Rp. 20.000,-
Es teh manis : Rp. 6.000,-


Senin, 28 Januari 2013

Teman Jalan


Jalan-jalan bagi saya merupakan kegiatan yang sangat suci, karena merupakan saat untuk penjernihan serta pemurnian fisik dan mental. Hampir sama sih kayak brain washing atau pendidikan ulang buat jiwa, walaupun hal-hal mesum dan nistanya tidak bisa hilang seluruhnya he he he he.

Nah sebelum cuti (bagi pegawai kayak saya) maupun liburan selalu dihajar berbagai macam rutinitas dan kegiatan serta masalah yang tidak ada habis-habisnya dari Senin sampai Jumat dari jam 8 pagi sampe jam 8 malam, non stop. So satu-satunya obat ya Cuma dengan travelling, mau kemana yang pasti lepas dari rutinitas. Terkadang diantara kalian kalau traveling sukanya berombongan ala pengungsi, berdua ala pengantin (kalau cowok sama cowok berarti homo he he he) ataupun sendirian ala anak ilang. Jalan bareng teman itu bagaikan dua sisi mata uang ada enaknya dan ada gak enaknya.

Enaknya jalan bareng sama teman baik duaan aja maupun rombongan sirkus tuh bisa bercanda, bisa minta tolong foto-fotoan, minta tolong bawain barang, bisa saling pinjam uang, tuker-tukeran baju dst dsb dll. Negatif nya susah menyatukan keinginan-keinginan berbeda, misalnya kamu suka pantai dia suka gunung walaupun pepatah asam digunung ketemu garam di laut itu di meja makan alias jadi sayur asem, tapi jalan-jalan bukan pepatah juga bukan sayur asem. Masa kita jalan-jalan malah diribetkan perbedaan satu sama lain? Jangan-jangan jadinya bukan jalan-jalan tapi tawuran he he he.

Tapi tidak bisa tidak untuk dipungkiri jalan bareng temen (terutama yang se ideologi) lebih banyak untungnya. Salah satu keuntungan yang mutlak adalah ada tukang foto gratis dan ada lagi yang bisa garukin punggung kita kalo lagi kegatelan. So mengingat saya udah sering travelling dengan manusia berbagai genre, sudah bertapa juga untuk mencari inspirasi dan walaupun aneh dan agak ngasal nih beberapa tips dari saya :

·    Cari teman jalan yang jelas jenis kelaminnya. Jangan pria jadi-jadian atau wanita jadi-jadian. Soalnya kalau yang model jadi-jadian kayak gini dijamin gak jelas traveling nya se gak jelas jenis kelaminnya.
·    Cari teman yang sudah dikenal. Jangan sok kenal udah di ajak travelling, apalagi nemu di WC umum, ntar malah disuruh megangin barangnya pas kencing
·    Cari teman jalan yang sudah sehati sama kamu alias sudah sering/pernah jalan bareng. Itu menentukan garing apa gaknya perjalanan kamu nantinya sekaligus masa depan kamu...........
·   Cari teman jalan yang selalu positive thinking, dijamin biarpun ada kejadian apapun yang gak enak selama perjalanan, pasti hasilnya enak juga soalnya posistive thinking. Tapi bukan berarti pulang jalan-jalan testpack kalian jadi postive juga yaaaa.........
·   Kalau bisa jangan cari teman jalan yang pasangan dan lagi pacaran pula (termasuk maho) dijamin kalau itu terjadi kamu paling enteng bakal jadi obat nyamuk, tukan foto pre wed ataou paling berat jadi porter buat pasangan itu.
·    Pilih teman jalan yang sehat jasmani dan rohani. Kalau teman jalan penyakitan malah jadi PMR dong kemana-mana bawa tandu. Apalagi kalau terganggu rohaninya bisa-bisa disangka kita buronan dari RSJ.
·     Selektif pilih teman jalan. Teman sekantor, teman kuliah, boleh jadi pilihan, yang penting kita tahu sifat-sifatnya, pembawaannya, silsilah keluarganya, dan kebiasaanya bagaimana, itu jadi point plus.
·    Kalau dapat teman jalan wanita (ehhmmm....) jangan yang suka shopping alias belanja. Sumpah harus dihindari!!!! Nanti malah travelling kalian jadi belanja grosiran buat buka toko. Amit-amit.........
·   Yang terpenting dari semua, teman jalan-jalan yang kamu pilih tuh dasarnya orang-orang yang gembira. Jadi bisa menikmati perjalanan, situasi dan kondisi yang ada selama perjalan dan bisa menularkan kebahagiaan ke sesama temannya.

Yaaaa semoga panduan mencari teman jalan ala saya bisa membantu. Atau malah mempersuli karena bingung mencari teman jalan? Yaaa itu kembali ke penilaian kalian sendiri, toh dengan atau tanpa teman jalan suatu perjalanan harus menyenangkan dan berkesan di hati?

Nih saya sisipin Quotes : One’s destination never a place but a new way of seeing things

Senin, 21 Januari 2013

The Pants Boot Camp 2012


Judulnya sih boleh keren dan tidak mainstream : Boot Camp. Boot Camp sendiri kalau di search di internet artinya kamp pelatihan militer. Istilah Boot Camp ini sekarang dipakai secara luas untuk tempat pelatihan fisik. Nahh kenapa pakai judul ini, ini juga ada ceritanya dan masih terkait dengan artikel sebelumnya yakni The Pants.

Kalau sudah membaca artikel sebelumnya, maka semuanya tahu asal muasal dan sejarah The Pants jadi tidak sulit lagi mengikuti ceritanya. Kali ini untuk menyingkat kata The Pants maka saya singkat menjadi ”crew”. Menjelang penghujung tahun 2012 yang semakin dekat sekaligus tekanan kerja yang meningkat (namanya juga kerja di bank setiap hari under pressure) kita semua kepingin refreshing dengan kegiatan petualangan beramai-ramai. Crew diminta sumbang saran perihal kegiatan ini, karena kerja saya relatif longgar maka saya sambi dengan browsing internet tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi dari Sabang sampai dengan Merauke (he he he he), baca punya baca beberapa blog dan destinasi wisata kok saya tiba-tiba teringat perjalanan saya bulan Juni 2012 gara-gara iseng saat ke Malang karena gatal ingin keluyuran saya memutuskan untuk pergi ke pantai selatan Malang yakni Pantai Balekambang, dan teringatlah kalau Malang Selatan punya pantai yang lumayan untuk dijadikan tempat wisata. Kalau Balekambang sih untuk ukuran crew mereka bakalan tidak tertarik karena kurang menantang, tapi saya ingat di Balekambang ada pulau untuk kemping yakni Pulau Sempu.

Nah dari sinilah saya mencoba menggali informasi ternyata di pulau Sempu ada pantai tersembunyi seperti laguna dengan nama Pantai Segara anak. Tidak berbatasan langsung dengan laut tapi membentuk danau dikelilingi perbukitan karang. Liat punya liat ternyata review dan gambar pantainya tidak kalah dengan Maya Island di Thailand. Dan ternyata untuk kesana harus trekking terlebih dahulu menembus hutan selama kurang lebih 2 jam serta harus camping disana karena tidak ada penduduknya. Dalam hati saya, ”WOW” kenapa tidak???!!!!! So dengan semangat saya membuka facebook saya dan membuat undangan komite untuk crew membahas rencana refreshing kita ini. 5 menit kemudian undangan siap dan terkirim ke para anggota untuk komite di tempat nongkrong seperti biasanya yakni benoa cafe he he he he. Iseng-iseng sore hari saya cek undangan ternyata crew menyanggupi undangan kuriltai ini (kuriltai; baca : pertemuan para pemimpin) dengan catatan membawa tablet untuk menggali informasi.

Hari yang ditentukan untuk meeting pun tiba, sepulang kerja crew berkumpul di Benoa Cafe makan malam sekaligus membahas rencana jalan-jalan kali ini, banyak usulan yang dikeluarkan mulai pantai Sukamade, Banyuwangi, Gunung Ijen, Bromo, Rafting, Bali dll tapi semuanya tidak bersemangat karene mereka menginginkan sesuatu yang lain yang lebih menantang. Pada saat mereka tenang saya bilang kenapa kita tidak camping di Pulau Sempu saja, disana ada pantai yang indah. Mereka terdiam dan mulai browsing tablet masing-masing. Voilla!!! Antusiasme nya mulai muncul, crew mulai ribut membicarakan pantai ini, akhirnya saya ceritakan pengalaman saya sebelumnya ke pantai yang berdekatan dengan pulau Sempu. Saya bilang pantainya indah, lokasi di Malang Selatan dengan kurang lebih 2 jam perjalanan alias mudah terjangkau. Debat punya debat secara umum mereka setuju dengan pulau Sempu, namun jadi masalah adalah kesana harus camping bila ingin menikmati keindahan pantainya. Padahal anggota crew adalah notabene orang rumahan alias bukan pencianta alam. Kita cinta petualangan tapi untuk camping pasti menjadi masalah untuk sebagian besar crew. Debat punya debat karena sebagian besar crew punya masa muda kurang bahagia alias orang rumahan semua akhirnya crew yang hadir setuju dengan camping.

Akhirnya musyawarah untuk mencapai mufakat memutuskan secara bulat AKA Big O pulau Sempu sebagai destinasi terakhir The Pants untuk tahun 2012 sekaligus sebagai ajang pembuktian diri kalao crew adalah orang-orang yang tangguh dan tanah cobaan (wkwkkwkwkk) sebagai agenda penutupan tahun sekaligus kegiatan jalan-jalan The Pants maka diambil nama untuk kegiatan ini adalah The Pants Boot Camp 2012. (sudah pake bold, italic pula, yang penting keren namanya J). Sebagai catatan untuk kegiatan ini anggota terdaftar harus ikut alias tidak boleh absen karena merupakan penutupan kegiatan The Pants 2012.

Mengingat penetapan D-Day nya semakin dekat maka kita sekalian membahas dan mendata perlengkapan dan kebutuhan peralatan apa saja yang diperlukan untuk camping disana selama 2 hari / 1 malam. Saya pikir mereka agak ragu mengenai acara camping ini tetapi malah mereka semangat sekali mendata peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk kegiatan ini. Terutama yang pengin camping tapi baru kesampaian sekarang. Peralatan dan perlengkapan yang diperlukan setelah didata disesuaikan dengan jumlah anggota ternyata diluar dugaan cukup banyak. Bagaimana tidak banyak anggota yang harus ikut ada 19 orang. Terbayang kan bagaimana ribetnya mengatur peralatan dan perlengakapn untuk orang sebanyak itu? Bahas dibahas dan terus dibahas akhirnya rencana semakin matang dimana rencana umumnya adalah berangkat dari Jember jam 19.00 sepulang kerja langsung ke Malang untuk menginanp di rumah saya yang kebetulan kosong selanjutnya jam 05.00 berangkat dari Malang langsung menuju Pelabuhan Sendang Biru.

Untuk perlengkapan sendiri meliputi ransel dengan kapasitas minimal 35 Liter, tenda isi 4 orang sebanyak 5 tenda, makanan, minuman, kendaraan dan peralatan perlengkapan lain yang sifatnya pendukung. Setalh di data termasuk bagaimana cara memperolehnya serta perhitungan biayanya maka hasil rapat ini dituangkan dalam notulen (ceileeeee....) dan dibagikan ke masing-masing anggota termasuk tugas dan tanggung jawab masing-masing anggotanya. Setelah lengkap akhirnya kita masih punya waktu efektif 3 minggu untuk melengkapinya dan siap berpetualang. Nah untuk petualangannya di cerita selanjutnya ya guys............................

Jarak Kota-kota di Pulau Jawa sd Bali


Ni informasi buat yang hobi jalan-jalan semoga bermanfaat………………………….

A. RUTE JAKARTA – JAWA TIMUR – BALI

1. Jakarta-Denpasar :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Demak = 18 km, Demak-Kudus = 25 km, Kudus-Pati = 24 km, Pati-Rembang = 35 km, Rembang-Tuban = 100 km, Tuban-Babat = 28 km, Babat-Lamongan = 27 km, Lamongan-Gresik = 28 km, Gresik-Surabaya = 15 km, Surabaya-Bangil-Pasuruan = 64 km, Pasuruan-Probolinggo-Situbondo-Ketapang = 246 km, Gilimanuk-Negara-Tabanan = 108 km, Tabanan-Denpasar = 26 km.
Total Jarak Tempuh = 1.178 km

2. Jakarta-Banyuwangi :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Demak = 18 km, Demak-Kudus = 25 km, Kudus-Pati = 24 km, Pati-Rembang = 35 km, Rembang-Tuban = 100 km, Tuban-Babat = 28 km, Babat-Lamongan = 27 km, Lamongan-Gresik = 28 km, Gresik-Surabaya = 15 km, Surabaya-Bangil-Pasuruan = 64 km, Pasuruan-Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi = 246 km.
Total Jarak Tempuh = 1.044 km

3. Jakarta-Probolinggo-Jember :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Demak = 18 km, Demak-Kudus = 25 km, Kudus-Pati = 24 km, Pati-Rembang = 35 km, Rembang-Tuban = 100 km, Tuban-Babat = 28 km, Babat-Lamongan = 27 km, Lamongan-Gresik = 28 km, Gresik-Surabaya = 15 km, Surabaya-Bangil-Pasuruan = 64 km, Pasuruan-Probolinggo = 38 km, Probolinggo-Jember = 66 km.
Total Jarak Tempuh = 902 km



4. Jakarta-Surabaya :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Demak = 18 km, Demak-Kudus = 25 km, Kudus-Pati = 24 km, Pati-Rembang = 35 km, Rembang-Tuban = 100 km, Tuban-Babat = 28 km, Babat-Lamongan = 27 km, Lamongan-Gresik = 28 km, Gresik-Surabaya = 15 km
Total Jarak Tempuh : 734 km

5. Jakarta-Surabaya-Malang :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Demak = 18 km, Demak-Kudus = 25 km, Kudus-Pati = 24 km, Pati-Rembang = 35 km, Rembang-Tuban = 100 km, Tuban-Babat = 28 km, Babat-Lamongan = 27 km, Lamongan-Gresik = 28 km, Gresik-Surabaya = 15 km, Surabaya-Sidoarjo-Gempol = 35 km, Gempol-Malang = 48 km.
Total Jarak Tempuh = 817 km

6. Jakarta-Madura (Bangkalan-Blega-Sampang-Pamekasan-Sumenep) :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Demak = 18 km, Demak-Kudus = 25 km, Kudus-Pati = 24 km, Pati-Rembang = 35 km, Rembang-Tuban = 100 km, Tuban-Babat = 28 km, Babat-Lamongan = 27 km, Lamongan-Gresik = 28 km, Gresik-Pel.Tj. Perak = 25 km, Pel.Kamal-Bangkalan = 14 km, Bangkalan-Blega = 41 km, Blega-Sampang = 22 km, Sampang-Pamekasan = 25 km, Pamekasan-Sumenep = 59 km.
Total Jarak Tempuh = 905 km

7. Jakarta-Kediri-Blitar :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Ungaran-Bawen = 17 km, Bawen-Salatiga-Boyolali = 31 km, Boyolali-Solo = 30 km, Solo-Sragen = 26 km, Sragen-Ngawi-Maospati-Madiun = 81 km, Madiun-Caruban-Nganjuk-Kediri = 75 km, Kediri-Tulungagung-Blitar = 63 km.
Total Jarak Tempuh = 757 km.

8. Jakarta-Ponorogo :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Ungaran-Bawen = 17 km, Bawen-Salatiga-Boyolali = 31 km, Boyolali-Solo = 30 km, Solo-Sragen = 26 km, Sragen-Ngawi-Maospati-Madiun = 81 km, Madiun-Ponorogo = 33km
Total Jarak Tempuh = 652 km

9. Jakarta-Cepu-Bojonegoro :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Demak = 18 km, Demak-Kudus = 25 km, Kudus-Pati = 24 km, Pati-Rembang = 35 km, Rembang-Blora = 36 km, Blora-Cepu = 34 km, Cepu-Bojonegoro = 33 km,
Total Jarak Tempuh = 639 km

10. Jakarta-Solo-Madiun :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Ungaran-Bawen = 17 km, Bawen-Salatiga-Boyolali = 31 km, Boyolali-Solo = 30 km, Total Jarak Tempuh Jkt-Solo = 512 km, Solo-Sragen = 26 km, Sragen-Ngawi-Maospati-Madiun = 81 km,
Jarak Tempuh Jkt-Madiun = 619 km.

B. RUTE JAKARTA – JAWA TENGAH & YOGYAKARTA

1. Jakarta-Yogyakarta via Semarang :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Ungaran-Bawen = 17 km, Bawen-Magelang = 43 km, Magelang-Yogyakarta = 40 km.
Total Jarak Tempuh = 534 km

2. Jakarta-Yogyakarta Via Purwokerto :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Slawi-Bumi Ayu = 40 km, Bumi Ayu-Ajibarang-Purwokerto = 37 km, Purwokerto-Sokaraja-Banyumas-Buntu = 25 km, Buntu-Gombong-Kebumen-Kutoardjo-Purworejo = 89 km, Purworejo-Wates-Yogyakarta = 72 km,
Total Jarak Tempuh = 577 km

3.Jakarta-Solo-Wonogiri :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Ungaran-Bawen = 17 km, Bawen-Salatiga-Boyolali = 31 km, Boyolali-Solo = 30 km, Solo-Sukoharjo-Wonogiri = 29 km.
Total Jarak Tempuh = 541 km

4. Jakarta-Jepara :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Demak = 18 km, Demak-Kudus = 25 km, Kudus-Jepara = 28 km,
Total Jarak Tempuh = 505 km

5. Jakarta-Kudus-Pati-Rembang :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Demak = 18 km, Demak-Kudus = 25 km, Kudus-Pati = 24 km, Pati-Rembang = 35 km,
Total Jarak Tempuh = 536 km

6. Jakarta-Semarang-Purwodadi-Blora-Cepu :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Purwodadi = 56 km, Purwodadi-Blora = 64 km, Blora-Cepu = 34 km
Total Jarak Tempuh = 588 km

7. Jakarta-Wonosobo :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Slawi-Bumi Ayu = 40 km, Bumi Ayu-Ajibarang-Purwokerto = 37 km, Purwokerto-Sokaraja-Purbalingga = 21 km, Purbalingga-Banjarnegara = 47 km, Banjarnegara-Wonosobo = 30 km, Total
Jarak Tempuh = 489 km.

8. Jakarta-Cilacap Via Tegal :
Jakarta-cikampek (via tol) = 73 km, Cikampek-Sukamandi-Ciasem-Pamanukan = 46 km, Pamanukan-patrol-kandanghaur-lohbener = 56 km, Lohbener-Jatibarang-Palimanan (via tol)-Plumbon-Kanci = 74 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Slawi-Bumi Ayu = 40 km, Bumi Ayu-Ajibarang-Wangon = 33 km, Wangon-Cilacap = 32 km.
Total Jarak Tempuh = 419 km

9. Jakarta-Cilacap Via KarangPucung :
Jakarta-Ciawi-Cianjur = 114 km, Cianjur-Padalarang-Bandung = 59 km, Bandung-Cileunyi-Nagrek = 32 km, Nagrek-Malangbong-Tasik = 66 km, Tasik-Ciamis-Banjar = 42 km, Banjar-Majenang-Karangpucung-Wangon = 67 km, Wangon-Cilacap = 32 km.
Total Jarak tempuh : 412 km

C. RUTE BANDUNG – JAWA TENGAH & YOGYAKARTA – JAWA TIMUR – DENPASAR

1. Jakarta-Tasik :
Jakarta-Ciawi-Cianjur = 114 km, Cianjur-Padalarang-Bandung = 59 km, Bandung-Cileunyi-Nagrek = 32 km, Nagrek-Malangbong-Tasik = 66 km,
Total Jarak Tempuh : 271 km.

2. Jakarta-Bandung Via Tol Cipularang :
Jakarta-Bandung (Via tol) = 146 km
Total Jarak Tempuh = 146 km

3.Jakarta-Bandung Via Ciawi:
Jakarta-Ciawi-Cianjur = 114 km, Cianjur-Padalarang-Bandung = 59 km
Total Jarak Tempuh = 263 km

4. Bandung-Denpasar Via Utara:
Bandung-Sumedang = 13 km, Sumedang-Kadipaten-Jatiwangi-Palimanan = 71 km, Palimanan-Plumbon-Kanci (via tol) = 27 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Demak = 18 km, Demak-Kudus = 25 km, Kudus-Pati = 24 km, Pati-Rembang = 35 km, Rembang-Tuban = 100 km, Tuban-Babat = 28 km, Babat-Lamongan = 27 km, Lamongan-Gresik = 28 km, Gresik-Surabaya = 15 km, Surabaya-Bangil-Pasuruan = 64 km, Pasuruan-Probolinggo-Situbondo-Ketapang = 246 km, Gilimanuk-Negara-Tabanan = 108 km, Tabanan-Denpasar = 26 km.
Total Jarak Tempuh = 1040 km

5. Bandung-Denpasar Via Selatan :
Bandung-Nagreg-Malangbong-Tasik-Ciamis = 115 km, Ciamis-Banjar-Majenang-Wangon = 105 km, Wangon-Sumpiuh-Gombong-Kebumen-Kutoarjo-Purworejo = 116 km, Purworejo-Magelang-Yogyakarta = 81 km, Yogyakarta-Klaten-Solo = 58 km, Solo-Sragen-Mantingan-Ngawi = 74 km, Ngawi-Caruban-Nganjuk-Kertosono = 88 km, Kertosono-Jombang-Krian-Surabaya = 96 km, Surabaya-Sidoarjo-Gempol-Bangil-Pasuruan = 64 km, Pasuruan-Probolinggo-Situbondo-Ketapang = 246 km, Gilimanuk-Negara-Tabanan = 108 km, Tabanan-Denpasar = 26 km,
Total Jarak Tempuh = 1177 km

6. Bandung-Malang :
Bandung-Sumedang = 13 km, Sumedang-Kadipaten-Jatiwangi-Palimanan = 71 km, Palimanan-Plumbon-Kanci (via tol) = 27 km, Kanci-Losari = 29 km, Losari-Brebes = 27 km, Brebes-Tegal = 9 km, Tegal-Pemalang = 27 km, Pemalang-Comal-Pekalongan = 31 km, Pekalongan-Batang-Weleri-Kendal = 50 km, Kendal-Kaliwungu-Semarang = 12 km, Semarang-Demak = 18 km, Demak-Kudus = 25 km, Kudus-Pati = 24 km, Pati-Rembang = 35 km, Rembang-Tuban = 100 km, Tuban-Babat = 28 km, Babat-Lamongan = 27 km, Lamongan-Gresik = 28 km, Gresik-Surabaya = 15 km, Surabaya-Sidoarjo-Gempol = 35 km, Gempol-Malang = 48 km,
Total Jarak Tempuh = 679 km.

7. Bandung-Solo-Madiun :
Bandung-Nagreg-Malangbong-Tasik-Ciamis = 115 km, Ciamis-Banjar-Majenang-Wangon = 105 km, Wangon-Sumpiuh-Gombong-Kebumen-Kutoarjo-Purworejo = 116 km, Purworejo-Magelang-Yogyakarta = 81 km, Yogyakarta-Klaten-Solo = 58 km, Solo-Sragen = 26 km, Sragen-Ngawi-Maospati-Madiun = 81 km,
Total Jarak Tempuh = 582 km

8. Bandung-Magelang-Yogyakarta :
Bandung-Nagreg-Malangbong-Tasik-Ciamis = 115 km, Ciamis-Banjar-Majenang-Wangon = 105 km, Wangon-Sumpiuh-Gombong-Kebumen-Kutoarjo-Purworejo = 116 km, Purworejo-Magelang-Yogyakarta = 81 km,
Total Jarak Tempuh = 417 km.

sumber : Bismania


Semoga bermanfaat dan selamat jalan-jalan…………..

Kamis, 03 Januari 2013

The Pants


Mungkin kalau anda membaca judul diatas pasti langsung berpikir-pikir sekaligus membayangkan apa sih maksudnya The Pants itu? Apakah “Celana”, “Celana pendek seksi” atau punya arti lain? Supaya tidak penasaran inilah cerita dibalik nama The Pants…..

Asal muasalnya sih dikarenakan pegawai yang memiliki blackberry di kantor diwajibkan ikut grup BB kantor yang isinya pemimpin-pemimpin dan segenap pegawai, karena merasa dibatasi aspirasinya alias tidak bisa menulis bebas suara hati kita (ceileee) maka kita berinisiatif membuat grup baru yang anggotanya murni pegawai dengan visi dan misi yang sama, catata untuk pegawai yang pro manajemen dan tukang adu tidak kita masukkan dalam grup ini. Atas dasar ini maka terbentuklah grup khusus pegawai (untuk alasan keamanan maka grup ini tidak dapat disebutkan namanya he he he he)

Nah didalam grup ini isinya bercanda terus dan gak ada seriusnya, termasuk gojlok-gojlokan menjadi menu wajib sehari-hari. Yang menjadi topik utama adalah masalah homo, lekong, maho dll dst dikarenakan laki-laki disini pada bujangan semua (alias jauh dari keluarga) sehingga gojlokan-gojlokannya adalah menjadi pria tidak normal ha ha ha ha. Suatu saat teman kami mengusulkan memberi nama grup ini, dengan nama unik dan lucu. Mulai dari grup maho, lekong, gerombolan pantat dll pokoknya usulannya lucu-lucu, aneh bin nyeleneh. Akhirnya Saya teringat jaman dulu kan ada namanya grup musik Panbers kenapa kita gak make plesetannya aja jadi pantat bersaudara toh juga disini kita hidup jauh dari keluarga jadi all men are brother he he he he. Dari sini berkembang-berkembang usulannya menjadi lebih absurd lagi yakni Pantaters arstinya sih persaudaraan pantat ha ha ha ha akhirnya setelah debat kusir dengan mempertimbangkan kesusilaan umum maka Pantaters tadi disingkat menjadi THE PANTS.

Inilah embrio grup petualang, jalan-jalan, begajulan kami sampai dengan sekarang. Petualangan-petualangan, perjalanan-perjalanan yang saya tuangkan di blog ini kebanyakan bersama-sama dengan Grup The Pants. Dengan 19 anggota tetap dan anggota kehormatan yang bisa diundang untuk bergabung dengan perjalanan petualangan kami. Kami memiliki satu misi dan visi yakni berjalan-jalan dengan low budget, berpetualang kemana saja yang penting ada pantai yang indah, dugem habis-habisan (kalau ada tempat dugemnya), menyelam is a must, snorkeling wajib bagi anggota, dll yang terkait dengan travelling, petualangan dan makan.

Slogan kami : We are The Pants – Bergandeng tangan saling menguatkan

YESSS WE ARE THE PANTS!!!!!!!!!!


Senin, 03 Desember 2012

Trip Pulau Menjangan


Seperti biasa grup jalan-jalan kami mengadakan perundingan kegiatan apa yang akan dilakukan buat refreshing, kegiatan seperti ini mulai rutin kami lakukan (seperti cerita-cerita sebelumnya) kalau dirasa kita mulai jenuh dan butuh hiburan. Berbagai usul bermunculan di rapat itu (biasanya sih kami rapat sambil makan malam) disertai bercanda dan tertawa mulai usul ke Bali, ke luar negeri dst dll. Pokoknya situasi tidak jelas, ribut, ramai, penuh asap rokok dan camilan, hingga ada usulan ke pulau Menjangan. Pulau Menjangan? Penasaran dengan hal tersebut maka kami mulai membuka komputer tablet masing-masing untuk browse perihal pulau ini.

Ternyata pulau Menjangan merupakan bagian dari Taman Nasional Bali Barat dengan spot lokasi yang jauh dari hiruk pikuk jantung pariwisata pulau Bali. Alias letaknya cukup dekat dengan pelabuhan Gilimanuk atau hanya kurang lebih berkendara 1 jam dari pintu keluar pelabuhan. Spot diving dan snorelingnya menarik walaupun tidak seperti Raja Ampat (kata internet sihh….). Akhirnya setelah mempertimbangkan banyak hal maka rapat dewan jenderal memutuskan kali ini para petualang berangkat ke pulau Menjangan. Rapat persiapan segera kembali dihelat dalam waktu tidak terlalu lama dengan termasuk penghitungan biaya dan perlengkapan yang diperlukan.

Akhirnya waktu yang dinantikan pun tiba, sepulang kantor setelah persiapan selesai jam 21.00 WIB kita berangkat melewati Situbondo dikarenakan menjemput peserta dari Situbondo dan langsung menyusuri jalur utara menuju Banyuwangi. Jam 02.00 kita sampai ke pelabuhan namun sebelum masuk ke kapal mengingat adanya tambahan supply untuk makan pagi terapksa kita menunggu makan pagi dibungkus di rumah salah satu rekan kami di Banyuwangi. Akhirnya kita menyeberang ke pelabuhan Gilimanuk dan tepat jam 06.00 kami mendarat di Bali. Langsung kami menuju taman nasional Bali Barat untuk ke Labuhan Lalang yang merupakan pelabuhan menuju pulau Menjangan.

Tidak terasa ferry yang kami tumpangi merapat ke pelabuhan Gilimanuk, Bali. At least Bali! Dan kami siap untuk berpetualang! Tiba di pulau Dewata jam 06.00 WIT suasana pagi di jalan raya menuju taman nasional Bali Barat masih lenggang, cenderung sepi. Akhirnya setelah menempuh kurang lebih 30 menit jalanan beraspal akhirnya kami berbelok menuju Labuhan Lalang. Jalan menuju labuhan lalang dari jalan besar tidak sampai 10 menit dengan kondisi jalan makadam alias rusak walaupun masih bisa dilalui kendaraan bermotor. Setibanya di Pelabuhan Lalang kami telah ditunggu guide untuk mendapat pengarahan sekaligus fitting peralatan snorkling, kali ini kami tidak diving karena budget yang terbatas dan yang mau diving di kelompok kami tidak ada sehingga kami putuskan tidak diving dahulu. Selesai berganti pakaian dengan pakaian pantai, langsung kami menuju pelabuhan naik perahu kayu menuju Pulau Menjangan, dikarenakan jumlah anggota trip kali ini yang lumayan banyak (16 orang!!!!) maka kami menyewa dua kapal kayu untuk menghindari adanya peserta yang berenang marathon (baca : renang marathon di Baluran).

Puas bergaya di pelabuhan dan di kapal kami segera berangkat menuju pulau menjangan, ternyata perjalanan yang ditmpuh cukup jauh karena memakan waktu kurang lebih 30 menit dengan kapal melalui beberapa pulau kecil dan gugusan karang. Pemandangannya sangat indah apalagi warna lautnya sangat menggoda ada yang biru muda, turqouise, dan biru tua menandakan lautnya memiliki beranekaragam kedalaman. Selain itu dari atas kapal pun kita bisa melihat karang-karang dan ikan-ikan walaupun samar-samar. Angin berhembus sepoi-sepoi dan omabknya juga tidak terlalu besar.

Tiba di lokasi snorkeling pertama yang jaraknya berdekatan dengan pulau Menjangan kami segera menyantap sarapan terlebih dahulu mengingat sepagian belum sarapan. Nasi pecel dengan lauk ayam, tempe, telur dan kerupuk serasa nikmat dimakan beramai-ramai di atas kapal dibelai angin sepoi-sepoi. Sehabis bersantap kami segera mempersiapkan baju dan peralatan snorkeling kami. Untuk peralatan bisa sewa di persewaan di Labuhan Lalang atau membawa sendiri, sebagian dari kami membawa peralatan sendiri sehingga tidak perlu menyewanya. Akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba beramai-ramai kami meloncat ke birunya laut, coba tebak apa yang menunggu kami dibawah sana?


Gugusan karang dan beranekaragam ikan hias berwarna-warni bersliweran di dekat kami. Benar-benar pemandangan yang luar biasa apalagi tidak perlu menyelam samapai dalam untuk menikmati pemandangan karang dan ikan ini. Di birunya laut di tengah-tengah sinar laut yang masuk ke dalam laut tampak gerombolan ikan kecil (entah apa jenisnya) berenang beriringan dan berbelok tiba-tiba sehingga memberikan kilatan perak badan mereka. Benar-benar luar biasa. Belum lagi digugusan karang anemon-anemonnya bergerak-gerak dan ditengah-tengah ada clown fish tidak menyanka bisa melihat yang seperti ini. Bila melihat agak ke dalam ikan-ikan yang berukuran besar bersliweran dielingi gerombolan ikan berkejaran. Ini pemandangan yang luar biasa, saya telah ke berbagai pantai untuk menyelam atau sekedar snorkeling (Tulamben, Benoa, Taman Nasional Baluran) namun yang ini sungguh luar biasa, Semua bisa dilihat dari jarak yang tidak terlalu jauh dari bibir pantai dengan kondisi nyaris tanpa ombak dan suhu air yang hangat. Beberapa kali kami diperingatkan oleh Guide untuk tidak terlalu dekat ke pantai karena di khawatirkan fin kita mengenai karang dan merusak karang ataupun badan kita tersengat oleh karang beracun.


Sambil snorkeling kami berfoto-foto termasuk foto bawah air dengan kamera bawah air yang disewa di Labuhan Lalang, termasuk berfoto-foto dengan ikan buntal yang ditangkap oleh guide. Puas ber snorkeling dan berfoto-foto sebagian naik ke kapal dan loncat terjun dari kapal untuk merasakan sensasi terjun ke kedalaman laut. Tentunya sambil foto-foto narsis ha ha ha ha ha. Kurang lebih 2 jam berenang akhirnya kami menjelajah pulau Menjangan, di pelabuhan pulau menjangan sendiri telah banyak turis-turis mancanegara yang selesai snorkeling ataupun diving, bedanya dengan kami turis nekat di makanan yang disajikan, kalau kami nasi bungkus, para om-om dan tante turis makanannya bento box! Tapi tetap semangat!!! Ha ha ha ha ha


Pulau Menjangan sendiri kalau dilihat struktur penyusunnya merupakan pulau karang, dengan habitat pepohonan dan semak belukar. Kenapa dinamai pulau Menjangan dikarenakan disana banyak binatang Rusa/Menjangan. Pada saat kami berkeliling hewan-hewan tersebut muncul dari semak-semak. Di pulau itu juga terdapat pura dan patung Ganesha atau Dewa Gajah dengan gading yang putus. Dikarenakan kondisi pulau yang kering kerontang dan hawa sangat panas serta tidak ada yang dilihat lagi maka kami segera mengakhiri penjelajahan kami di pulau Menjangan. Setibanya ke kapal kami langsung menuju ke Labuhan Lalang.

Ditengah perjalanan menuju labuan Lalang guide menawarkan pada kami spot snorkeling ke dua, dengan setengah promosi nanti disana sering terlihat hiu kecil. Langsung saja kami setuju untuk snorkeling lagi, karena mumpung sudah disini kapan lagi bisa. Selain itu niat kami seharian khusus untuk snorkeling dan berenang sebelum kembali ke Jember. Seberhentinya kapal kami langsung kembali terjun ke laut untuk berenag dan snorkeling lucunya suhu air berbeda dengan tadi, suhu airnya lebih dingin bbbbrrrrrr.............., sayang tidak bisa terlalu lama berenang disana karena ombak yang tidak bersahabat, angin yang mulai kencang dan ada anggota team yang mabuk laut sampai muntah di laut. Sehingga kami berebut naik ke kapal karena takut terkena muntahan tadi ha ha ha ha ha ha..............

Perjalanan pulang ke Labuhan Lalang semuanya terdiam menikmati pemadangan laut yang indah dengan hutan-hutan bakau di kiri kanan kapal. Dikejauhan nampak gunung Baluran, kenapa bisa terlihat karena Taman Nasional Bali Barat berhadapan langsung dengan Taman Nasional Baluran, bahkan siang itu bisa terlihat kumpulan pohon bakau di pantai Baluran. Saya jadi ingat peristiwa renang marathon di Pantai Bama, Baluran. Tiba dipelabuhan kami segera mandi, bersiap untuk kembali ke Jember. Sebelum pulang saya sempatkan menoleh lagi ke biru nya laut Pulau Menjangan...............................




Jadi teringat quotes : "Take nothing but pictures, leave nothing but bubbles, and kill nothing but times.........."

Sampai jumpa di next trip The Pants!!!!!!

Rabu, 20 Juni 2012

Petualangan di Baluran

Masih bersambung dengan tulisan sebelumya yakni African Van Java mengenai apa dan bagaimana Taman Nasional Baluran, tulisan ini bercerita petualangan saya berikutnya di Taman Nasional Baluran alias african van java. Acara jalan-jalan bersama teman-teman dekat ini sudah di planning dari jauh-jauh hari mengingat transportasi yang terbatas, dana yang minim serta mencari lowongnya kegiatan kantor. Akhirnya setelah berkali-kali membahas rencana jalan-jalan akhir minggu disepakati untuk mengunjungi Taman Nasional Baluran terutama pantai Bama. Kenapa kita memilih taman nasional ini karena lokasinya dekat dan menurut hasil browsing di internet ada pantai yang bisa digunakan untuk snorkeling dan diving. Maklum grup kita ini suka dengan olahraga laut seperti snorkeling dan diving.

Akhirnya dipilih waktu keberangkatan hari sabtu pagi dari Jember, kali ini saya ikut karena penasaran dengan namanya taman nasional Baluran dan pantai Bama yang di internet keliatan bagus he he he. Akhirnya jam 09.00 kita berangkat dari jember dengan menggunakan 2 kendaraan sewa menuju Situbondo dengan sebelumnya mampir dahulu di Situbondo untuk menjemput 2 orang teman lainnya. Perjalanan total ditempuh selama kurang lebih 2 jam dari Jember hingga ke depan pintu masuk Taman Nasional. Dipintu masuk kita mendapat penawaran untuk menggunakan mobil dari pihak taman nasional, namun karena sudah membawa mobil sendiri maka tawaran menggunakan mobil tersebut kita tolak (benernya sih karena harus bayar lagi sih he he he). Untuk masuk ke  Baluran maka para pengunjung ditarik karcis masuk Rp. 2.500,- per kepala dan untuk kendaraan roda empat dikenakan Rp. 6.000,-

Masuk ke Baluran pertama kali di hadapkan jalan makadam walaupun masih bisa dilalui kendaraan roda empat jenis Innova maupun Sedan! Langsung dihadapkan dengan pemandangan hutan di kiri kanan jalan, kalau kita awas mengamati pemandangan banyak jenis-jenis burung bahkan ayam hutam yang bisa dilihat sepanjang jalan. Terkadang dipinggir jalan terdapat kubangan tempat binatang berkubang walau cuma kubangannya saja. Menjelang memasuki savana nampak burung merak di pinggir jalan memamerkan bulunya kemarin yang terlihat 4 ekor burung merak. Tidak terasa kl 12 km memasuki savana walaupun jalannya makadam tetapi tidak terasa karena pemandangan yang indah. Savana Bekol pemandangannya seperti di Afrika dengan padang rumput yang luas dan pohon-pohon palem raksasa, sayangnya tidak ada Singa-nya. Yang ada cuma rusa dan gerombolan kera abu-abu sepanjang jalan di savana itu. Kita sempat turun dan foto-foto dengan latar belakang gunung Baluran, serasa foto di afrika.

Melanjutkan perjalanan menuju tujuan utama yakni pantai Bama yang jaraknya kurang lebih 15 km dari pintu masuk taman nasional, masih disuguhi pemandangan padang rumput dan pohon-pohonan sayangnya si banteng yang terkenal tidak muncul sama sekali. Akhirnya kita pun sampai di pantai Bama mengingat kita bermalam maka kita segera menurunkan barang-barang di wisma tamu. Ada 3 wisma tamu disana dan kita menyewa 2 diantaranya. Sayang wisma tamu ini kurang terawat padahal menurut gambar di brosur seperti hotel bintang 3. Tetapi tidak apalah yang saya cari disini bukan fasilitas tetapi petualangannya. Selesai beberes kita langsung menuju ke pantai di depan wisma, apa yang terjadi??? Air lautnya ternyata sedang surut dan dipantai banyak sekali monyet yang sedang mencari makan di pantai. Entah mereka makan apa. 


Kepalang basash akhirnya kita menjelajah pantai yang surut, ternyata pantai tersebut di lapisi sejenis rumput di pasirnya tetapi bukan rumput laut melainkan seperti rumput gajah di tanah lapang. Ternyata menarik juga menyusuri laut yang surut, banyak binatang laut seperti teripang, bintang laut, siput laut, kerang-kerang, duri babi, ikan-ikan kecil dll. Harus berhati-hati berjalan disana karena duri babinya tersembunyi di rerumputan, disarankan walaupun menarik berjalan dengan telanjang kaki tetapi saran saya sebaiknya tetap memakai sandal untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Karena teman saya namanya arie ttidak sengaja menginjak duri babi beberapa saat setelah dibilang harus berhati hati he he he he.

Gara-gara kejadian itu kita menghentikan eksplorasi pantai Bama dan segera bergegas ke pantai untuk mengobati duri babi itu. Padahal rencanaya tuh duri-duri babi itu mau kita kumpulkan buat acara api unggun untuk dimakan bagian dalamnya karena terinspirasi acara di TV yang menunjukkan duri babi bisa dimakan. Gagal deh menikmati duri babi. Akhirnya teman saya si Arie memberisihkan  lukanya dan mencari cara mengobati, sepengetahuan saya duri babi bisa disembuhkan dengan memberikan air seni pada lukanya agar duri-durinya keluar, setelah ditanyakan pada penjaga wisma, ybs menyatakan hal yang sama. Akhirnya dengan sukarela salah satu teman namanya Tyaz menyumbangkan air seni nya untuk pengobatan kaki si Arie ha ha ha ha

Sementara si Arie sibuk dengan kakinya kita menyusuri pantai mencari kayu bakar untuk api unggun, untungnya banyak ranting-ranting kayu yang sengaja sudah disiapkan untuk api unggun. Sambil bersenda gurau di pinggir pantai menunggu matahari terbenam sekaligus menunggu kantin menyiapkan makan malam buat kita. Menunya : mie goreng, soto, atau nasi goreng. Nyammm lapar berat maklum sesiangan berguncang guncang di mobil main di tepi pantai. Ehhhh satu lagi sejak meninggalkan Bekol semua signal provider mati kecuali flexy. Sehingga mau tidak mau, teman-teman tidak memakai BB maupun HP dan menikmati waktu dengan ngobrol dan bersantai dipinggir pantai. Yah rasanya benar-benar di dunia lain bebas signal HP, sepi sekali disana, semuanya tenang dan damai bahkan waktu terasa berhenti disini karena setiap saya lihat jam tangan waktunya berputar lambat sekali.

Tidak terasa jam 19.00 pun tiba setelah makan malam dan mandi kita berkumpul dipinggir pantai dengan membeber tikar dan membawa makanan-makan kecil serta minuman untuk acara api unggun. Tidak lupa membawa sebotol Champagne untuk menghangatkan suasana ha ha ha ha (sayangnya jack daniel dan johny walkernya tidak bisa di bawa karena sudah ada yang pesan he he he he). Akhirnya kita kumpul dipinggir pantai sambil ngobrol, becanda, ketawa-ketawa mengelilingi api unggun. Untuk camilan kebetulan saya bawa marsmellow untuk dipanggang, dan ada yang membawa chicken nugget. Udara malam begitu segar apalagi bulan purnama sehingga tidak terlalu gelap, untuk menghangatkan badan kita juga menikmati Champagne yang saya bawa. Karena kebetulan yang berangkat adalah teman-teman akrab di Jember jadi suasananya begitu hidup becanda rame-rame saling ganggu. Sebagian mengobrol, sebagian main kartu dengan hukuman bermacam-macam, sebagian termasuk saya melamun melihat laut di waktu malam. Really miss someone that time he he he.


Keesokan paginya setelah sarapan pagi (nasi goreng yummy!!) kami memutuskan melakukan watersport yakni naik kano sepanjang pantai dan snorkeling di tengah laut. Untungnya pengelola taman nasional tersebut memiliki kano, peralatan snorkeling serta perlatan keselamatan yang memadai sehingga kami tidak khawatir tentang keselamatan. Ternyata ber kano itu susah-susah gampang terutama menjaga keseimbangan dan mengatur arah apalagi yang berbadan padat berotot seperti saya ini (ha ha ha ha) bosan ber kano ria, kami melanjutkan dengan snorkeling. Mengingat jarak snorkeling site yang lumayan jauh dari pantai sekitar kl 250 meter maka digunakan kapal model jukung membawa kami ke lokasi. Jukung tersebut hanya bisa memuat maksimal 10 orang incl pemandu dan pemilik kapal, so sisanya terpaksa ber kano menuju lokasi. Untung kondisi perairan pantai bama relatih tenang, berombak kecil dan tidak ada arus bawah laut yang terlalu kuat, sehingga cocok untuk dibuat snorkeling.

Lokasi snorkelingnya tampak aneh karena lautnya memiliki degradasi warna ada biru muda, biru tua dan turqoise padahal dengan jarak berdekatan. Menarik sekali pokoknya! Tidak sabar rasanya ingin segera menikmati keindahan, tidak terasa kapal yang membawa kami sampai ke snorkeling spot, kami disambut dengan laut yang berwarna turqoise dengan kedalaman kl 6 meter. Suhu air nya hangat dengan sinar matahari belum terik karena masih jam 9 pagi. Saat membenamkan masker ke air langsung nampak pemandangan koral dan batu karang serta ikan-ikan kecil bersliweran di bawah sana. Airnya begitu tenang dan jernih sehingga pemandangan koralnya kelihatan jelas. Ikan beraneka warna bermain diantara karang dan koral, ada bintang laut juga. Sayang tidak ada ikan-ikan besar karena menurut pemandunya belum musim ikan. Setelah kl 1jam bersnorkeling ria disana. akhirnya kami memutuskan kembali ke pantai, tetapi apa yang terjadi perahu nya keberatan!!!!


Akibat angin yang mulai kencang dan arus yang makin kuat akhirnya perahunya tidak kuat menampung sepuluh orang! Sementara jumlah kano yang terbatas serta pengendaliannya susah, setelah berbicara dengan pemandu perihal jarak dan kekuatan arus ke arah pantai, akhirnya saya memutuskan ke pantai dengan berenang. Bayangkan jarak 250 meter dari lokasi snorkeling ke pantai ditempuh dengan berenang. Nekat, walaupun saya rutin berenang seminggu sekali 1 jam penuh tanpa henti di kolam renang, namun keder juga karena ini laut, dengan ombak, arus serta angin. Nekat akhirnya saya berenang pelan-pelan, kl 10 menit berenang rasanya paru-paru mau meledak dan capai. Apalagi tenggorokan kering karena bernapas dengan snorkel, melihat pantai masih jauh, sementara kembali ke kapal juga jauh akhirnya saya beristirahat dulu mengumpulkan napas. Tak sadar arah berenang saya tidak ke pantai melainkan ke arah hutan bakau. OMG! Dengan susah payah melawan arus saya memperbaiki arah dan mulai berenang lagi emnuju pantai. Gaya katak, gaya bebas, sampai gaya dada sya praktekkan disana dengan harapan bisa cepat menuju pantai. Untungnya dibantu dengan fin dan baju khusus renang sehingga tidak ada hambatan di air. 30 menit diair pantai terasa masih jauh, tetapi untunglah saat melihat kebawah formasi rerumputan yang ada dipantai saat laut surut mulai muncul. Hal ini membuat saya makin mempercepat gerakan renang saya menuju pantai, tidak lama saya bisa menjejak ke pasir dipantai dan berjalan ke arah pantai.

Rasanya capek sekali, kaki sulit sekali melangkah karena berat, apalagi sempat minum air laut lumayan banyak. Tidak kuat akhirnya saya ambruk di pantai mengumpulkan tenaga. Dibelakang saya, dipepohonan dipantai ada 2 orang pacaran cuma melongo melihat saya tiba-tiba keluar dari air. Mungkin dia pikir dari mana ini orang, kok tiba-tiba ada disini padahal tuh temen-temennya masih dilaut he he he he tetapi saya cuek saja tiduran di pantai sambil menikmati ombak sambil beristirahat. Setelah kuat saya melangkah menuju tempat duduk-duduku di depan penginapan dimana disana ada teman-teman yang tidak snorkeling, Mereka heran setengah mati melihat kemunculan saya karena menyangka saya masih ada ditengah sana. Mereka hanya bisa berkata : Dari mana? Kok gak naik kapal? Saya menjawab: gara-gara kapalnya tidak kuat terpaksa berenang sendiri ke pantai. Bayangkan 250 meter di lautan, jujur saja rasanya mau mati, pada saat terombang ambing di tengah sana, benar-benar menakutkan, walaupun saya terlatih untuk renang dan menyelam tetap saja ini hal yang mengangkan. Tetapi sekaligus bangga atas pencapaian saya bisa berenang di laut terbuka dengan ombak dan arus bawah sejauh 250 meter, ini juga berkat latihan renang rutin saya selama ini.

Ternyata ditengah sana kondisi teman-teman lebih parah, banyak yang luka gara-gara berusaha naik ke atas kapal, ada yang kram kakinya, ada yang terpaksa berenang sambil berpegangan di badan kapal samapai kakinya hampir kena baling-baling dll. Sedangkan yang naik kano karena kebodohan sendiri tidak membawa dayung akhirnya terbawa arus sampai dekat kumpulan batu-batu 300 meter dr penginapan ha ha ha ha. Tetapi seru sekali hari ini, saat merapat kepantai kita tertawa terbahak-bahak mendengar cerita masing-masing.

Tidak terasa waktu telah menjelang siang dan saatnya kembali ke Kota Jember, kebetulan sekali yang menjemput saya naik wrangler. Mobil idaman saya nie pikir saya, cocok sekali digunakan dimedan seperti ini. So kesempatan buat saya dan teman-teman berfoto-foto ria di savana Africa van java dan di mobil wrangler (he he he aji mumpung)




Akhirnya setelah menempuh kl 3 jam perjalanan santai akhirnya sampai juga ke kota Jember, setibanya di kos-kosan saya mandi dan langsung tepar karena kecapekan. What a day, tired but full adventure.