Horison

Horison

Kamis, 24 Juli 2014

Selamat Idul Fitri

Teman-teman dimanapun berada Saya mengucapkan Mohon Maaf Lahir dan Batin bila ada kesalahan baik salah kata maupun perbuatan selama ini, apabila tersinggung dengan artikel-artikel ini juga saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Untuk yang beragama non muslim saya ucapkan selamat berlibur dan salam damai................Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Sumber: http://wacana.siap.web.id/2014/07/kumpulan-ucapan-selamat-idul-fitri-1435-h-2014.html#.U9HbD2ffRZM

Minggu, 20 Juli 2014

Mangrove Fishing - Tlocor



Nahh gara-gara maniak sama yang namanya mancing tanggal 29 Juni kemaren grup mancing mania the pants saya undang mancing di muara sungai Porong, tepatnya di desa Tlocor. Kok sampe tau Tlocor? Nah ini gara-gara GPS terkutuk yang nunjukkin arah jalan pulang yang salah, so nyasar deh di Gempol sampe ke dermaga Tlocor, ehhh sepanjang perjalanan banyak tambak2 dan kolam pancing untuk umum. Dalam hati nih kesasar membawa berkah namanya. Kesasar ehhh dapat spot mancing.

Pas Senin saya ngantor browsing-browsing ehhh di Tlocor tuh disebrang muara kali Porong ada pulau buatan namanya Pulau Sarinah. Pulau ini buatan BPLS dibentuk dari endapan lumpur panas porong yang ditimbun kesini. Akhirnya menjadi sebuah pulau kecil (19 Ha) yang ditanami mangrove. Dan menariknya sering dijadikan lokasi wisata dan lokasi memancing.

Langsung saja deh buka chat di grup mancing kasi janji-janji, rayuan manis, mulut setan dll akhirnya mau juga mereka berangkat dari Jember untuk mancing di Tlocor he he he walaupun saya sendiri belum tau potensi ikannya seperti apa, tapi namanya kalau hobi yang penting berangkat dan lempar kail. Hebatnya lagi kita melaut siang-siang panas dll tuh di awal puasa! Iya awal puasa. Gimana coba bisa dibayangin kan mancing di laut pas puasa.

Nah pas hari H nya habis sahur langsung saya berangkat ke stasiun Gubeng jemput rombongan dari Jember, langsung bablas ke Tlocor. Jaraknya lumayan jauh juga dari Surabaya kl 40 km, untung masih pagiu sehingga udara segar dan jalanan masih sepi. Akhirnya setelah 1 jam berkendara sampailah kita ke dermaga Tlocor, susasana masih sepi, Cuma ada 3 orang lagi memancing udang di dermaga. Jam 7 tepat akhirnya perahu kayu datang dan kita segera berangkat ke pulau Sarinah.
Ternyata perjalanan lumayan jauh memakan waktu 20-30 menit dari dermaga, sepanjang perjalanan disertai pemandangan hutan magrove sepanjang sungai dan burung-burung bangau beterbangan dari pinggir sungai. Ukuran sungai lumayan lebar dengan lebar 50 sd 60 meter an. Samapi di pulau Sarinah ada dermaga kayu untuk mendarat kapal, ternyata pulaunya luas sekali dan dipenuhi hutan bakau. Dan ada penghuninya! Iya yang menghuni petugas penjaga pulau. Sementara teman-teman bersiap memancing saya mencoba berjalan masuk ke dalam pulau tapi setelah 10 menit berjalan saya batalkan melanjutkan menjelajah selain sepi juga ntar haus maklum puasa he he he he
Langsung deh sekembalinya menjelajah langsung saja kita mempersiapkan kail dan umpannya. Untuk umpan udang kecil2 mati (yg hidup susah nyarinya), cumi dipotong-potong dan rotos (cacing laut). Siap semua dan di lemparlah kail ke laut. Sebagai Gambaran pulau Sarinah terletak di mulut muara sungai Porong, kondisi air coklat dan arus dasar cukup kencang. Nelayan bilang banyak ikan sembilang, keting, kakap dll. Lempar kail terasa ada yang mengigit tapi ketika ditarik umpannya yang habis. Strike pertama mas Yunus ikan keting (sejenis ikan patin) kecil, lanjut strike oleh Ale, Huri dan Saya semuanya dapatnya ikan keting. 2 jam strike berikutnya lagi-lagi ikan keting, tanpa ada harapan kakap atau ikan besar lainnya. Matahari makin meninggi akhirnya kami memilih menelpon tukang perahu pindah lokasi.

Tukang perahu bilang harusnya kalau sekarang ikannya banyak tapi kalau tidak ada ikan kemungkinan ada polusi limbah dari sungai Porong. Kami manggut-manggut, pantas diperjalanan tadi melihat orang menjaring ikan kok dapetnya kecil-kecil. Pindah lokasi ke tambak di anak kali Porong masuk ke dalam sekitar 200 meteran, tersembunyi di pepohonan bakau ada lokasi tyambak para nelayan. Katanya ikannya kakap putih, hemmm suatu tantangan. Bersemangat lansgung saja kami mengambil posisi melempar kail. Strike pertama oleh ale, bukan strike tapi double strike ikannya Bandeng. Nah makin semangat kami mencoba, lempar kail, menunggu, lempar kail, menunggu. Gak terasa udah jam 11.30 tanpa hasil sama sekali. Udara makin panas, tenggorokan terasa kering, putus asa gak dapet iakn jadi satu. Akhirnya dengan berat hati kami memilih berhenti memancing, beres-beres bersiap kembali ke Surabaya. Kecewa? Tidak ada yang kecewa karena inilah hobby kami, sepanjang kail dilempar tidak dimakan ikan pun kami tetap tertawa.

Catatan :
Sewa perahu Rp. 200.000,-
Umpan rotos Rp. 5.000 per gelas aqua
Umpan udang Rp. 45.000 per ½ kg (beli di supermarket he he he)

Mau kesana?
Surabaya ke arah Malang,  lewat jalan porong lama, setelah jembatan porong belok kiri, arah ke gempol/Pasuruan, Jembatan tol baru belok kiri masuk ke tol gempol lama, terus saja sampai liat penunjuk jalan di kiri – Tlocor, terus saja sampai mentok di dermaga Tlocor.

Recomended :
Jangan berharap dapat ikan banyak, yang penting hobby. 



Weekly Payout

MAU DAPAT UANG Rp3,000,000,- Perhari tanpa modal sepeserpun??? Iseng2 dpt duit nih yang suka online, bisa buat income hingga Rp3,000,000,- atau lebih dalam sehari tanpa modal. Cuma waktu 3 menit aja after baca ini. Saya mau berbagi program dari US yang bisa buat duit sampingan. Free register tanpa dikenakan biaya. Tiada modus penipuan (kalau anda rasa program ini bohong anda ga rugi apa2, anda toh ga keluar modal/duit sepeser pun). Syarat mudah, hanya punya bbm, FB or Wechat, Whatsapp or apapun juga dan suka online. Anda hanya perlu open Link dibawah dan register sebagai member. Sesudah register anda langsung dapat US $ 25 x10,000,- = Rp250,000,- Kemudian anda dpt Link anda sendiri. Seperti saya di bawah. Anda copy Link anda sendiri dan paste di FB, twitter, chat dan sebagainya. Setiap orang yang buka Link anda dan register anda akan menerima upah sebanyak $10 x Rp10,000,- = Rp100,000,- Mudah bukan?? Perusahaan ini membayar kita sebagai pengiklan Utk meningkatkan traffic situs WEB nya setiapa hari. Pencairan duit anda bisa pilih duitnya mau ditransfer ke rekening bank atau cek akan dipos langsung ke alamat rumah anda . Tunggu apalagi register sekarang juga klik link berikut : http://WeeklyYouthPay.com/?ref=53270 saya sudah membuktikannya. tdk keluar dana. kita hanya membantu iklan mrk saja kita dpt uang!

Return Of The King



Judul film????? Lah itu kayaknya kaya judul film ya? Hemmmm bener itu Judul Film trilogy Lord Of The Rings. Arti harfiahnya : Kembalinya Sang Raja, truss apa hubungannya dengan saya? Siapakah sang raja itu? Apakah Saya pemeran utamanya? Atau Saya sutradaranya??????
Bukan semua!! Salah semua!! Secara saya emang ganteng kayak pemeran Gollum ehh pemeran Aragorn alias si Viggo Mortensen tapi judul diatas gak ada kaitannya sama Trilogy LOTR trus apaan dong? Nih judul ada kaitanyya dengan perjalanan hidup saya sampai dengan saat ini. Alias saya baru kembali dari ziarah panjang dari daerah Wild Wild East alias daerah Timur yang liar? Timur? IYA Timur Baca : JEMBER. 8 tahun sudah saya menunaikan tugas di sana dicabut dari kehidupan keduniawaian (Baca : SURABAYA) mengabdi di daerah pedalaman jauh dari mana mana, tiada hiburan kecuali bilyard, club malam dan karaoke (kok malah lengkap??) dan akhirnya di awal 2014 kemarin saya kembali ke kehidupan nyata! Thanks GOD!!!!!

8 tahun bukan waktu yang sebentar jauh dari keluarga, hidup sendiri dll dst dsb tapi jujur saja kadang2 saya merindukan waktu-waktu tinggal disana. Suasananya, makanannya, ritme kerjanya, dan teman-temannya yang sudah seperti adik dan kakak sendiri. 8 tahun penuh suka dan duka mulai dari... ehh dukanya dulu ya : ortu sakit parah gak bisa cepet-cepet pulang, pas sakit ga ada yang ngerawat, nge kos sendiri (ehhh ditemenin genderuwo dapur, mbak2 di kursi goyang n mas2 item di lorong sih he he he) dll lah tapi sukanya juga banyak : punya temen2 kompak kaya kelauraga kecil bahagia (sayangnya yg cowok2 kecuali saya penyakitnya lekong semua :)), kerjanya santai, bisa tidur siang pas jam istirahat dll dst.

Tapi semuanya harus ditinggalkan, kata orang Move on, penugasan baru, SK ditangan Januari tanggal 6 sudah harus aktif di tempat tugas barus : Surabaya. Yes its SURABAYA. Bisa kumpul lagi dengan keluarga, gak keluar biaya untuk transportasi dll pokoknya heaven lahh. Nih gak lepas sama eks Bos. Big THKS Ya boss, sama Big THKS juga buat boss nya si Boss. Saatnya menata hidup baru di kotaku. Untuk teman-teman disana terutama Geng The Pants terimakasih yaa untuk 8 tahun kebersamaan kita, sudah kayak keluarga sendiri, bu Titit untuk makan siang nya di Kantin sama, pak kos yang mau menampung saya dengan dikasi teman setan2 di kosannya, mas genderuwo di dapur jangan iseng bunyi2 ah bikin kaget, mbak di kursi goyang bikin merinding kalo lewat situ ihhh, mas-mas item dilorong iseng amat sih sliweran n nabrak2 aku...semuanya Tks ya.

Loh trus kok Judulnya Return Of The King? Mau beken ya? Ohh itu ceritanya sih ada 2 versi terserah mau percaya versi yang mana, ni ceritanya :

Versi 1 (versi orang sirik) :
Sebelum pindah ke Jember saya kerja di Surabaya, kerjaan saya nge copy video2 Bo*** trus di buat ke CD trus dijualin deh ke temen2. Pokoknya ada koleksi baru saya pst punya. Makanya saya dipanggil Raja Bo***

Versi 2 (lebih sahih) :
Kata ibu saya masih ada keturunan raja gak tau dari kerjaan mana, klo feeling saya sih Majapahit lahhh (maksa banget.....), nah pas ada 2 temen di Jember pas ketemu saya (dia nya jago ngeramal) langsung bila
ng mas nya ada keturunan darah biru, yang satunya bilang keturunan Raja. Nahhh looo. Masa saya gak percaya? Ga sopan kan ga percaya?

Makanya judulnya diatas RETURN OF THE KING, Kembalinya Sang Raja..................Ke Surabaya.

NB Pesen untuk eks2 anak buah :



 

Kamis, 14 November 2013

(Saya) Maniak Mancing



Belakangan ini atau tepatnya sudah 3 bulan ini saya jadi gila mancing. Hampir tiap kesempatan di waktu luang saya pergi memancing. Kalau dipikir-pikir asal muasal Saya tergila-gila sama kegiatan namanya memancing gara-gara sewaktu jalan-jalan ke daerah Pacet, Mojokerto kebetulan sudah waktunya makan siang dan disana ada warung lesehan yang dilengkapi kolam pancing nahhh sambil menunggu makanan datang iseng-iseng saya coba memancing menggunakan joran bambu. Apa yang terjadi, ternyata dapat ikan lumayan besar, namun pas ditarik karena joran sederhana lepaslah ikan itu. Nahhh sejak saat itu keinginan mancing datang terus sampai akhirnya iseng beli alat pancing ke teman kantor yang kebetulan peng hobi mancing.

Setelah alat pancing siap, maka dengan tekad membaca saya kembali ke warung lesehan itu he he he dengan maksud menaklukkan ikan-ikan disana dengan alat pancing baru saya. Namun apa yang terjadi karena awam dan belum mengerti cara memakai alat pancing canggih akhirnya benang nya mbulet semua, mata kail menancap di jari, dan bingung cara menggunakannya. Ha ha ha maklum pemula. 30 menit kemudian setelah kehebohan itu, saya pelan-pelan bisa menguasai cara nya menggulung dan mengulur kail, namun masih belum bisa tehnik melempar kail jauh. Pokoknya memalukan sekali saat itu, jadi dengan alat pancing canggih (dan baru!!) hanya bisa lempar umpan jauhnya tidak sampai 2 meter jauhnya !!!! Yah namanya belajar, 1 jam lewat kanan kiri sudah dapat ikan besar dengan joran sederhana, 2 jam lewat akhirnya saya dapat ikan! Ni penampakannya :





Naaaaaa itu dia ikannya, keliatan gak?? Coba liat baik-baik........................

Sejak saat itu saya benar-benar gila mancing. Kapan saja bisa langsung berangkat mancing. Pengalaman buruk pertama makin memacu untuk semakin tergila-gila sama kegiatan ini he he he he he. Mancing kedua di tempat pemancingan di Tirta Kusuma Minapolitan, Sidoarjo Saya lebih percaya diri karena belajar dari pengalaman dan selama dirumah sudah belajar cara melempar kail he he he he disana dapat hasil lumayan kalau dijumlah sama ikan yang lepas bisa sampai 2 kg ikan nila. Dari sini makin tergila-gila ma olahraga satu ini, sampai-sampai ikut kejuaraan lomba memancing ikan patin di kolam pancing patin di Wadung Asri Sidoarjo. Disana kejadian lebih lucu lagi, karena masih awan dan pemula, waktu duduk di lokasi lomba, orang-orang yang ikut serius semua, tidak ada yang main HP atau BB semua melotot melihat joran didepannya. Bener-bener niat mereka. Sementara saya pakai joran model antena yang segera ditertawakan sama orang-orang disana karena dijamin patah kalau strike ikan patin kelas 5 kg an. (ini lomba pancing kelas berat man!) dan mereka bertanya Caddy nya mana mad?? Caddy? Emang ini golf ya? He he he akhirnya setelah liat kanan-kiri mereka memakai bantuan asisten untuk memasang umpan, mengangkat ikan dan melepas kail.

Tanya punya tanya akhirnya saya pun memakai caddy termasuk semua peralatannya alias peralatan tempur saya worthless alias tidak berguna karena bukan jenis untuk kelas berat. Malu? Tidak dong, saya belajar cara memasang umpan, melempar kail lurus, membuat umpan serta teknik pancing lomba dari Caddy ini. 3 Jam saya duduk bengong menanti umpan dimakan, tapi nihil. Pulang dengan tangan kosong? Tidak!! Ilmu makin bertambah sejak ikut lomba itu. Belum lagi membaca-baca artikel internet tentang memancing bikin saya makin penasaran. Termasuk cara membuat umpan benar-benar mancing mania sejati.

Ada kelebihan uang. Nah karena ada kelebihan uang saya berniat membeli alat pancing kebetulan rumah saya dekat dengan Jackpot pancing atau cek di http://jppancing.blogspot.com. Nah disana saya belanja alat pancing yang bisa menahan beban sd 10 kg dan terbuat dari titanium dan carbon. He he he namanya juga hobby. Pilih punya pilih hitung punya hitung dengan kualitas bagus Cuma habis Rp. 375 rb, dengan rincian sebagai berikut :

Joran  (lupa merk)     : Rp. 150.000,-
Reel merk Rolek        : Rp. 200.000,-
Senar tipis                  : Rp.   14.000,-
Pelampung                 : Rp.     7.500,-
Aneka kaitan              : Rp.     3.500,-

Itu sudah termasuk disusunkan alat pancing dan reel nya sama penjaga tokonya. Mahal? Relatif menurut saya, namanya juga hobby!

Memancing selanjutnya karena udah mengerti teknik dan umpan maka saya membuat umpan sendiri dan setelah di coba hasilnya lumayan langsung strike kalau dicoba dikolam. Nih bahan-bahan umpan super saya :
  1. Roti Tawar
  2. Keju happy cow
  3. Pelet ikan tabur
  4. Susu dancow
  5. Preman (perekat umpan mancing) / kinoy
  6. Essens vanilla (musim kemarau) / durian (musim hujan)
Caranya : Roti tawar dan keju dihancurkan dengan sedikit air panassamapi bentuk bubur, tambahkan susu dancow bubuk (jangan banyak2), beri essens secukupnya (16 tetes) tambahkan preman / kinoy secukupnya sehingga bisa dibentuk seperti malam dan tambahkan pelet. Jangan terlalu kering. Simpan dalam plastik tertutup. 

Nahhh sudah siap kan pelet ala Wisnu. Silakan di coba. Pertama kali memakai pelet ini pertama kali lempar langsung dapat 2 ikan nila sekaligus (pakai 2 mata kail) yang satu ukuran 5 jari yang satu ukuran 3 jari.

Kenapa kok mancing? Memancing bikin penasaran, sekali bisa menangkap ikan dan merasakan tarikan strike langsung ketagihan pingin coba lagi dan lagi dan lagi. Kalau tidak percaya ya coba saja. Kedua melatih kesabaran, Saya orangnya modelnya berangasan, tidak sabaran tetapi pas memancing bisa berjam-jam duduk diam menunggu umapn dimakan ikan, sabar bila umpan habis kita memasang lagi serta yang paling parah bila tali pancing mbulet tidak karuan. Harus sabar pelan-pelan, satu-satu menguarikan tali pancing yang kusut. Dan yang ketiga ikannya dibawa pulang diberikan ke orang rumah he he he he.

Ayo Broo mari kita mancing!!!!!!

Senin, 28 Oktober 2013

Perjalanan sial



Saya termasuk pekerja migran alias pendatang di kota penghasil tembakau di Jawa Timur alias Kota Jember. Asal dari Surabaya, kalau dilihat di peta paling-paling cuma sejengkal, tapi kenyataannya sejengkal itu berjarak 200 km atau 4 jam perjalanan mobil pribadi, 6 jam bis umum, 7 jam travel, 3 jam 45 menit kereta. Kenapa hapal konversi waktunya karena sudah 8 tahun tinggal disini dan setiap akhir pekan pasti pulang ke Surabaya. Type pekerja PJKA (Pulang Jumat, Kembali Ahad) he he he….

Walaupun termasuk jalur utama di pulau Jawa, jalan raya mulai dari Probolinggo ke Jember sangat memprihatinkan karena jalannya sempit alias cuma dua lajur serta ada beberapa bagian yang berlubang maupun bergelombang padahal yang lewat amit-amit alias truk-truk besar pengangkut barang kebutuhan pokok termasuk bonus jalan yang menanjak dibeberapa titik sehingga jalur ini terhitung padat. Sehingga yang normalnya perjalanan 4 jam bisa molor jadi 5 -6 jam, tergantung sikon. Nah ngomong-ngomong mengenai perjalanan PP Surabaya – Jember ini saya punya pengalaman yang tidak mengenakkan, bayangkan di jalanan selama 13 jam!

Hari Jumat seperti biasalah di kantor merupakan hari krida alias kerjaan bisa ditunda ke hari senin he he he tidak menyangka bakal jadi hari sial saya pulang ke Surabaya. Oleh orang rumah sudah dikasi saran pulang aja naik kereta jadi sampai di Surabaya jam 5 pagi, tidak saya gubris. Saya pikir perjalanan bakal lancar seperti biasa dan sampai ke rumah jam 11 malam. Tidak ada firasat buruk sebelumnya, tibalah jam 5 sore langsung cabut menuju terminal untuk naik bus. Ehhh sampai diterminal kok dapat bis patas yang bagus dan sudah hampir penuh alias siap berangkat. Naiklah Saya ke bis itu, tidak berapa lama berangkatlah bis itu. Selama perjalanan jalanan padat karena hujan dan banyak truk-truk bersliweran.

Menjelang masuk Kota Probolinggo jam 20.00 wib tiba-tiba perjalanan mulai tersendat-sendat dan bis mulai mengalihkan jalurnya melalui jalan yang tidak biasa. Ternyata ada banjir di kota Probolinggo! Saya pikir Cuma pendek saja karena bis masih bisa menerjang dan berjalan pelan-pelan. Cuma saya heran kok lewat kota tapi banjirnya tinggi dan jalanan lumayan sepi. Pikiran buruk saya simpan saja, apalagi ketika masuk terminal pada pukul 21.00 wib suasana ramai seperti biasa. Nah ketika diterminal itulah saya mulai curiga kenapa bis tidak segera berangkat apalagi penumpang sudah penuh, apalagi dengar orang ngobrol jalur probolinggo – pasuruan banjir 1 meter dan berbaia kabar lainnya. Ditambah teman saya yang naik mobil pribadi yang berangkat sejak jam 4 sore masih berada di Probolinggo terjebak macet!

Nahh! Pikiran mac gyver saya segera bekerja keras, ada apa yang salah? Apakah ada plan B pulang ke Surabaya apalagi kalau macet seperti ini bisa-bisa sampai pagi di jalan. Pikir punya pikir akhirnya dari pada membusuk di bis tidak bisa kemana-mana saya putuskan turun dari bis dan gambling naik kereta malam ke Surabaya. Saya pikir kalaupun sama-sama macetnya jalur kereta lebih tinggi dari jalan, ada ac dan ada kamar mandi dan kantin jadi mau macet sampe besok siang juga tidak masalah. Akhinya saya putuskan turun dari bis, masalah kedua muncul naik apa ke stasiun kereta? Karena lokasi stasiun kereta juga masih jauh kl 15 menit naik sepeda motor. Lah saya naik apa kesana? Apalagi banjir. Tanya punya tanya akhirnya ada ibu-ibu penjual camilan kasihan sama saya trus manggilin tukang ojek buat mengantar saya ke stasiun. Tarifnya berapa coba saudara-saudara?? Rp. 30.000,- dan tidak mau di tawar dengan alasan kota banjir. Ya sudahlah akhirnya saya naik sepeda motor bututnya ke stasiun.

Tapi apa yang terjadi??!! Banjirnya ternyata tinggi dan berarus pula seperti sungai dan jalan yang akan dilalui tergenang banjir. Salut sama pak ojek menembus banjir lewat jalan-jalan tikus yang notabene banjir juga setinggi lutut bahkan sampai merendam mesin, tapi motor bututnya tetap bekerja walaupun jalan pelan-pelan. Setelah 30 menit berjuang sampailah di jalan besar, tapi stasiun masih jauh, Ternyata perjuangan belum selesai....didepan mata banjir lebih besar masih ada, orang-orang sekitar menyarankan motor di tuntun alias jalan kaki. Benar saja, jalan berubah jadi sungai berarus pada saat melewati arusnya deras dan disertai pasir. Walhasil perjalanan ke stasiun harusnya cuma 15 menit molor jadi 1.5 Jam. Sampai stasiun alhasil baju dan celana basah kuyup sekaligus kelaparan karena belum makan malam. Untungnya stasiun Probolinggo loket tiketnya masih buka padahal sudah jam 11.30 malam sehingga ada tempat menunggu yang kering, sekaligus tempat ganti baju. Sambil menunggu pintu ke ruang tunggu di buka jam 1.30 pagi saya mencari makan di luar karena sudah kelaparan, nahhhh untungnya lagi masih ada penyetan buka. Makan deh disana, sambil makan saya kontak teman saya yang kabarnya masih terjebak macet, katanya makin parah banjirnya dan saking macetnya posisinya tidak bergerak sama sekali sejak jam 9 malam tadi he he he ternyata senasib.

Tunggu punya tunggu akhirnya kereta dari Banyuwangi pun datang jam 03.00 atau telat 30 menit dari jadwal, sedangkan kereta dari Surabaya telat lebih dari 1.5 jam karena banjir menggenangi rel. Akhirnya bisa naik kereta Mutiara Timur menuju Surabaya setelah terkatung-katung di jalanan hampir 11 jam. Nah pada saat kereta mulai jalan saya melihat keluar jendela sepanjang jalan terlihat kemacetan dan airnya belum surut, dan macetnya itu sampai Pasuruan. Setelah 13 Jam! Iya 13 Jam di jalan akhirnya sampai juga di kota tercinta jam 05.00 dengan badan lemas gara-gara masuk angin he he he he. Dan teman saya yang terjebak di jalan itu sampai Surabaya baru jam 12.00 siang ! Haaaa!!

Itulah perjalanan paling sial yang pernah saya alami selama perjalanan PP Jember – Surabaya, tapi terkenang juga kapan lagi bisa menikmati banjirr, naik ojek, muter-muter, nunggu di stasiun sampai berjam-jam.

Kamis, 17 Oktober 2013

Pulau Sempu 2012



Lanjut cerita The Pants Boot Camp yang saya tulis bulan Januari 2013, belum sempat saya lanjutkan karena kesibukan kerja dan kegiatan-kegiatan lain yang menyita waktu, tenaga, daya dan upaya…ngomong apa sihhhhhh. Sampai mana tadi? Oh iya melanjutkan cerita petualangan kami di Pulau Sempu dimana seluruh persiapan sudah siap tinggal berangkat saja. Untuk masalah keberangkatan kami berangkat dari Kota Malang jam 05.30 pagi agar sampai di pelabuhan Sendang Biru (http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Sempu) tidak terlalu siang mengingat jarak tempuh kota Malang ke Sendang Biru kurang lebih 2 Jam perjalanan atau 75 km dari kota Malang. Transportasi yang digunakan kali ini adalah satu unit MPV dan Izusu Elf kapasitas 12 orang karena pesertanya banyak (17 orang!!) disertai peralatan yang luar biasa berat dan banyak. Untuk yang ingin kesini tapi menggunakan kendaraan umum juga bisa kok ini panduannya :
  1. Dari Terminal Arjosari ke Terminal Gadang dulu naik angkutan kota dengan kode “AG” dengantarif antara Rp. 4.000,- sd Rp. 5.000,-
  2. Lanjut dari Terminal Gadang, cari Colt L 300 arah Turen (banyak kok jangan khwatir) dengan tarif antara Rp. 5.000,- sd Rp. 6.000,-
  3. Nahhh sampai di Turen tunggulah angkutan kota (angkot) menuju pantai Sendang Biru. Agak lama ya nunggunya tapi worth it lah kan kalo mau ke surga harus susah-susah dulu..........
Akhirnya setelah menempuh perjalanan brutal serta ajrut-ajrutan selama 2 jam (karena jalan Turen – Sendang Biru agak bergelombang) maka sampailah kita ke pelabuhan Sendang Biru, Malang Selatan ni penampakannya :


Sesampainya di Pelabuhan Sendang Biru segera kami menuju kantor BKSDA untuk mengurus ijin masuk ke Pulau serta menyewa guide menuju Pantai Segara Anak. Adapun biaya yang dikeluarkan antara lain  :
- Membayar ijin masuk biaya per orang @Rp. 5.000,00
- Retribusi ijin bermalam @Rp. 5.000,00.
- Ijin Polhut Rp. 30.000,00/team.
- Jasa pemandu tinggal menambah lagi Rp. 100.000,- per pemandu.
- Sewa sepatu trekking Rp. 10.000,-
Sarannya untuk yang belum pernah ke Pulau Sempu sewalah pemandu biar tidak tersesat.

Ijin ini harus diurus karena bila tidak diurus pemilik kapal tidak mau menyewakan kapalnya, setelah menunjukkan bukti pengurusan bisa langsung naik kapal adapun sewa kapal Rp. 100.000,- per kapal PP, tinggal telpon kalau minta di jemput. Keren kan....he he he. Kapalnya sendiri bisa menampung 10 – 20 orang jadi mending kalau ke Pulau Sempu berkelompok supaya irit. Untu menuju pulau Sempu sendiri ditempuh dengan waktu kl 10 – 15 menit dari pelabuhan Sendang Biru, dengan mendarat di teluk Semut. Tapi jangan girang dulu yaaa, perjalanan sesungguhnya baru akan di mulai, perjalanan neraka selama 2 jam dengan ransel 15 kg yaitu trekking.........




Pada foto ini penampakan penulis yang lagi nunduk dibelakang pake kaos biru dan celana kargo coklat. Foto diambil di pelabuhan Sendang Biru menjelang naik ke kapal pendarat.

Akhirnya dimulailah perjalanan 2 jam menembus hutan di Pulau Sempu, perjalanan berat karena semalam baru saja hujan sehingga becek dan penuh lumpur yang memakai sepatu trekking saja sampai kesulitan karena medannya yang berat. Sebagai catatan sepatu saya Catterpillar model sepatu tentara sampai tidak keliatan bentuknya karena penuh lumpur. Berkali kali kami harus berhenti untuk istirahat karena beban yang dibawa cukup berat dan lagi usia yang sudah tidak muda lagi.




Nih lagi ngos-ngosan mengumpulkan tenaga buat latihan angkat beban, ehh salah dink angkat tas. Tiap 500 meter istirahat, so kapan sampainya. Sampai2 guide nya geleng-geleng kecapekan istirahat terus he he he he.

Medannya kalau kering relatif mudah dilalui, tapi kalau becek sepertyi ini licin, lumpur dan tonjolan batu karang rawan melukai kaki. Jadi berjalan juga harus tetap waspada liat kanan kiri depan belakang siapa tau ketemu kuntilanak hiiiiiiiiiiii. Walah pokoknya itu 2 jam paling menyiksa, apalagi guidenya bilangnya ”sudah dekat”, ”sudah dekat” denger ada suara air ehh cuma sungai doang. Pokoknya kalau kesini gak terpaksa dan gak suka petualangan mending mikir-mikir deh. Ni aja berangkat biar ngelatih anggota The Pants biar jadi laki-laki sejati bukan lekong kaya di foto ini (baju biru gak pake topi --> Lekong he he he he).

Sesudah 2 jam dihajar lumpur, sempat kepleset 2 kali, keringat udah kering berkali-kali, punggung pegel-pegel akhirnya kedengaran suara debur ombak dikejauhan....naaa ini dia sudah dekat dengan pantai yang dituju. Saking bersemangatnya kami berjalan lebih cepat ehhhh apa yang terjadi sepatu saya jebol solnya gara-gara lumpur hu hu hu catterpillarnya jebolllllll. Untung bawa sendal gunung jadinya masih ada alas kaki pengganti kalau tidak alamat nyeker pulangnya.



Akhirnya sampai juga kita dipantai Segara Anakan dari atas tebing nampak air bergradasi warna biru ke hijau turqoise benar-benar indah apalagi pasir pantainya putih dan halus. Rasanya capek perjalanan 2 jam segera sirna melihat pemandangan tersebut. Tidak menunggu lagi segera kami turun menuju pantai tidak lupa melepas tas langsung bermain air. Benar-benar luar biasa pemandangannya.

Setelah bermain air sebentar maka kami segera menyiapkan lokasi untuk berkemah dan membongkar peralatan. Lokasi yang kami pilih berdekatan dengan tebing dan agak jauh dari pantai dengan alasan kalau pasang tidak menggenangi tenda dan kalau Tsunami kita bisa langsung kabur ke tebing-tebing...becanda..becanda pembaca. Untuk mempercepat tugas karena hari semakin siang maka para wanita nya  ditugasi untuk membuat makan siang, para lelakinya mencari kayu bakar untuk api unggun dan mendirikan tenda. Dan lucunya setelah tenda selesai dan perlengkapan di bongkar dari ransel masing-masing makanan mulai dari aqua, mie, coklat, camilan, dll dst dsb kalau dikumpulkan penuh di satu tenda! Kemah 1 hari bawa perbekalan buat 1 bulan. Pantes berat carrier rata-rata 15 kg ckckckckck.

Akhirnya setelah semua beres maka kami berpuas diri bermain air, berenang dipantai segara anakan yang berpasir halus dan tanpa ombak. Benar-benar pantai ideal, saya setuju sama gambaran blogger perihal Pantai Segara Anak setara dengan Pantainya Leonardo di Caprio di Phi Phi island karena benar-benar seperti surga ditengah kesunyian (walaupun tidak sunyi juga sihhh). Saya suka pantai  dan sudah ke berbagai macam pantai di Bali (Menjangan, Pemuteran, Tulamben, Uluwatu, Padang Padang dll) termasuk pantai-pantai di Irian waktu saya kecil dulu semuanya bagus tapi yang sebagus ini ya cuma Pulau Sempu. Degradasi warna biru ke hijau, pasir putih halus, air nya hangat dan sepi tidak ada tandingannya deh seperti kata orang The Hidden Paradise.






                              





                             

Makin sore semakin ramai pantai Segara anakan dengan oarang yang ingin camping, nah kaya perkampungan kan. Sayang walaupun pantainya bagus namun kelamaan akan jelek karena banyak sampah seperti plastik, botol aqua dll yang berserakan di sekeitar lokasi kemping. Kalau tidak dijaka bukan tidak mungkin Pantai Segara Anak bakal kehilangan keindahannya.

Sambil menunggu senja turun kami duduk-duduk sambil menyeduh kopi sebagian lagi berjalan menyusuri pantai sekedar menikmati sore, yang lain mencari ranting-ranting untuk bahan bakar api unggun. Udaranya khas pantai yakni panas lembab membuat berkeringat namun untungnya angin sepoi-sepoi sehingga terasa sejuk.

Akhirnya malam pun tiba dengan membuka dan memasak bekal yang ada seperti supermi, susis, nugget dll sambil menikmati api unggun. Bahkan ada yang membawa pisang yang segera dibakar di dalam api unggun. Kebetulan saya ditugasi membawa marsmallow jadi mirip orang bule kalau camping he he he he.
                                     

 
Tu pemandangan camp pengungsi lagi bikin makanan

Rasanya bahagia sekali bisa berkumpul dengan teman-teman menikmati alam jauh dari mana-mana (bahkan handphone pun tidak ada signal). Hanya menikmati langit malam dan suara ombak dikejauhan ditemani teman-teman dekat saja. Bahagia sekali saat itu, apalagi mereka memberi kejutan pada saya karena ulang tahun. Mie goreng dikasi nugget dan diberi lilin ulang tahun. Thanks Guys!!!!!!

Tidak terasa malam menjelang, udara semakin dingin dengan angin yang semakin kencang. Dan ternyata hujan derasssssssssss!! Langsung semua kabur ke tenda masing-masing berlindung dari hujan deras dan badai petir. Dag dig dug juga karena ada badai petir dan suara ombak diluar makin mengganas, Beberapa jam kemudian hujan pun selesai, dan ternyata memakan korban, tenda teman-teman lain banyak yang bocor hanya tenda saya yang kering kerontang he he he he. Keesokan harinya shubuh kita langsung bersiap-siap membuat sarapan karena harus segera kembali ke Jember apabila kesiangan bakal sampai tengah malam di Jember.

Siap-siap dimulai beres-beres dimuali akhirnya jam 07.00 persiapan selesai dan dimulailah perjalanan neraka tahap 2 ke teluk Semut. Lebih berat karena disertai hujan gerimis yang membuat medan semakin berat akibat hujan semalam.
 

                                 
 


                             


                                                             
Bersantai dulu sambil menunggu jemputan
 

Setelah berjalan menebus hujan, licin, lumpur kepleset 2 kali (lagi) akhirnya sampailah kita ke teluk Semut untuk menunggu jemputan dari kapal kemarin. Selagi menunggu kita eksis dulu donk he he he he. Selesailah petualangan di Pulau Sempu.


Nah ini beberapa tips saya untuk yang ingin ke pulau Sempu :
1.   Bila ke Pulau Sempu datanglah secara berkelompok. Selain lebih menyenangkan, juga akan ramah di kantong alias irit bin hemat serta tidak buang-buang waktu. Misalnya angkot Turen-Sendang biru, bisa di charter sehingga tidak mengganggu penumpang lain atau ngetem/berhenti menunggu penumpang terlalu lama. Pulangnya pun tinggal minta jemput dari sendang biru. Demikian juga perahu, dengan berkelompok, kita tinggal urunan Rp. 100.000,00 dengan sesama teman.
2.    Pantai sendang biru adalah titik terakhir menemukan air tawar karena di Pantai Segara Anak tidak ada sumber air tawar kecuali di Telaga Lele (yang jaraknya 3 jam perjalanan dari Segara Anak). Berapa botol? Yang pasti tidak cukup satu botol 1.5 liter, tetapi lebih dari itu (apalagi kalau berkemah), karena perjalanan yang cukup berat dan akan banyak menguras tenaga.
3.   Jangan meremehkan kondisi rute di Sempu karena ni akan benar-benar di luar dugaan. Apalagi bagi orang yang awam dengan petualangan alam dan trekking. Kalau musim kemarau, jalurnya tidah terlalu sulit karena jalan tidak berlumpur sehingga bisa ditempuh dengan waktu lebih cepat. Tapi bila sedang musim hujan, bersiaplah menangis karena bertarung dengan jebakan lumpur yang sangat menguras tenaga hingga untuk mengangkat kaki saja rasanya tidak sanggup.
4.   Bila berniat tidak menginap dan berniat pulang sore hari, maka siap-siap bawa bekal minimal lampu senter. Antisipasi bila kemalaman di dalam hutan menuju ke pantai sendang biru.
5.       Di sarankan untuk menyewa penunjuk jalan yang biasanya di tawarkan di BKSDA biasanya petugas nya / warga sekitar dengan tariff sekitar Rp. 100.000,00
6.    Pakailah sandal gunung / sepatu trekking yang mengikat sempurna kaki. Sandal jepit dapat di pastikan akan mudah putus dan licin sehingga mudah melukai kaki sendiri. Kalau tidak punya sewalah di tempat persewaan peralatan camping di Pantai Sendang Biru.

Nahhhh tunggu apalagi segera ke Hidden Paradise............................